Apakah itu Cantik? Citra atau Realita?

Posted: 6 April 2012 in ALL ABOUT LOVE

image

Cantik adalah kata yang sangat didambakan oleh setiap orang, terutama perempuan. Tidak ada perempuan yang tidak ingin merasa cantik, dikatakan cantik, terlihat cantik, atau menjadi cantik. Berbagai upaya dilakukan, kadang hingga menelan biaya yang tidak sedikit, hanya untukmengejar kecantikan.

Tidak pernah ada yang dapat mendefinisikan dengan tepat dan pasti, apa yang dimaksud dengan cantik, setiap orang bisa jadi memiliki definisi yangberbeda-beda mengenai apa itu cantik. Bagi sebagian, cantik bisa saja berarti bertubuh langsing, berhidung mancung dan berambut lurus. Bagi sebagian yang lain cantik barangkali artinya cerdas dan menyenangkan. Bung Karno, bapak bangsa yang dkenal memiliki selera yang baik tentang perempuan pernah menyatakan bahwa cerdas itu cantik. Namun sejarah membuktikan bahwa tidak satupun istri beliau yang ‘hanya’ cerdas, semua juga memiliki pesona fisik yang luar biasa.

Dalam jaman dimana arus informasi mengalir dengan cepat dan deras, tanpa sadar kita digiring kepada sebuah pemahaman yang nyaris seragam tentang definisi cantik. Dari majalah, koran, berita di televisi, film-film, hingga iklan yang terus menjamur, kita dihadapkan pada sebuah (baca: satu) definisi cantik, yaitu definisi ragawi, yaitu bahwa cantik adalah muda, berkulit putih, bertubuh semampai dan langsing, berambut lurus dan berwajah cerah tanpa noda. Seolah hanya itulah kriteria cantik yag sesungguhnya. Tak heran kita lantas dibanjiri oleh ribuan produk yang mendukung definisi itu, mulai dari alat kesehatan, obat awet muda, pusat-pusat kebugaran, aneka krim anti jerawat, pemutih muka, pemutih badan, salon hingga spa, semua menjanjikan kita kecantikan yang sama.

Sepanjang ingatan saya, hanya Body Shop yang dengan tegas dan jelas menentang hal itu dan mengkampanyekan kecantikan model lain dengan poster gambar seorang perempuan yang berbadan terhitung gemuk tersenyum cerah dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Menjadi pemikiran saya bahwa, jangan-jangan kita semua sudah terjebak pada sebuah proses panjang pencitraan tentang cantik. Sehingga alih-alih mencari kelebihan yang ada pada diri kita sendiri, kita sibuk mencari  dan menemukan hal-hal lain di luar diri kita, yang sesuai dengan citra cantik, padahal belum tentu sesuai dengan keadaan diri kita sehari-hari.

Seperti citra cantik itu putih. Bayangkan betapa celakanya kita yang terlahir dengan kulit sawo matang, hidup di negara tropis yang kaya sinar matahari, berusaha mati-matian untuk menjadi berkulit putih bak pualam. Sementara kita harus berpanas-panas ria setiap hari. Berapa banyak krim pemutih yang harus kita habiskan untuk membuat kulit kita menjadi seputih salju😦 .  Hal yang sama berlaku juga bagi wajah kita.

Berapa banyak perempuan atau laki-laki yang berusaha keras diet, menahan lapar, bahkan tak jarang hingga menimbulkan penyakit, demi untuk mengejar citra langsing.  Ada sebuah kisah sedih seorang teman yang terpaksa harus menderita sakit ginjal yang sangat parah karena terlalu banyak meminum ramuan pelangsing tubuh hingga melebihi batas. Teman malang ini akhirnya meninggal dunia dalam keadaan tetap gemuk, karena memang barangkali itulah badan yang ideal bagi dirinya😦

Citra rambut lurus sempat mencuatkan trend rebonding yang menghasilkan rambut yang lurus menjuntai dan tak rusak diterpa angin. Bahwa hal ini justru dapat mengakibatkan kerusakan pada rambut, nampaknya tidak menyurutkan minat orang terhadap hal ini😦

Ditengah segala bentuk pencitraan mengani definisi cantik, kita wajib bertanya pada diri kita sendiri, realisitiskah keinginan kita untuk menjadi ‘cantik’?   Apakah jika kita tidak termasuk golongan orang-orang yang termasuk dalam definisi umum, kita menjadi tidak cantik?  Bukankah realita tidak selalu sama dengan citra?  Padahal hidup adalah realita, bukan citra.

Tidakkah lebih baik jika kita menerima dengan lapang dada kondisi fisik yang menjadi rejeki kita. Bahwa kita giat berolah raga, itu karena kita ingin memiliki badan yang sehat. Jika kita kemudian menjadi lebih langsing, biarlah hal itu menjadi efek saja, bukan tujuan.   Bahwa kita melindungi tubuh dan wajah kita dari sengatan langsung sinar matahari, itu karena kita tidak ingin terkena kanker kulit. Jika karena itu kulit kita mejadi lebih putih, itu hanya konsekuensi logis saja.

Diri kita hanya satu-satunya di seluruh jagat raya, mari kita jaga dan cintai sebaik-baiknya. Jika bukan kita sendiri yang melakukan hal itu maka kita akan terbawa pada arus pencitraan yang terus dihembuskan di telinga dan di paparkan setiap saat di depan mata kita.

Mengenai citra ada sebuah cerita yang sangat melegakan dari seorang teman yang lain.  Teman yang baik ini (seorang laki-laki) hingga hari ini, setelah lewat 18 tahun perkawinannya, masih melihat istrinya secantik mahasiswi yang ia kenal puluhan tahun lalu, yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama🙂 . Citra kecantikan istrinya sangat melekat dalam benak dan hatinya, terlepas dari penampilan dan keadaan istrinya saat ini. Baginya istrinya adalah perempuan paling cantik yang pernah ia temui🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s